Ingin Omset 100M? Baca dulu tulisan inis ampai tuntas.
MARKET SIZE: SEBERAPA LUAS LAUTAN YANG KITA LAYARI?
“Kalau nggak tahu besarnya kolam, jangan kaget kalau kailmu nggak pernah nyangkut ikan besar.”
Kemarin, di Chapter 14, kita sudah membedah Definisi Bisnis. Kita belajar bahwa bisnis itu bukan sekadar produk, brand, atau bidang, tapi esensinya: siapa yang kita bantu, masalah apa yang kita selesaikan, dan bagaimana kita menghasilkan uang dari sana.
Nah, hari ini kita naik satu level. Setelah tahu “kita ini main di game apa”, sekarang kita ukur seberapa besar lapangannya.
Kenapa ini penting?
Kalau goal omzetmu setahun adalah Rp 100 Miliar, tapi ternyata potensi marketnya di kota tempat kamu beroperasi cuma Rp 20 Miliar… ya jelas targetmu nggak realistis.
Kalau kuenya cuma segitu, mau dipotong berapa pun, nggak akan tiba-tiba jadi lebih besar.
- KENAPA HARUS MENGHITUNG MARKET SIZE?
Saya sering pakai analogi sederhana di kelas coaching:
- Ibarat makan pizza → Market size adalah besarnya pizza.
- Ibarat mancing ikan → Market size adalah luas kolam dan jumlah ikannya.
Kalau kita tahu ukuran kuenya, kita bisa menentukan:
- Mau potong berapa besar (market share yang mau diambil)
- Realistis nggak target omzet kita
- Strategi apa yang paling pas untuk mendapatkannya
Kalau tidak tahu ukuran kuenya, kita akan:
Kejar target yang nggak masuk akal
Bakar uang untuk kampanye di segmen yang terlalu sempit atau salah arah
Kaget saat omzet stagnan padahal kerja keras
- TIGA KOMPONEN KUNCI: BASKET SIZE – MARKET SIZE – MARKET SHARE
- Basket Size – Nilai Rata-rata Belanja per Pelanggan
Ini adalah rata-rata uang yang dikeluarkan target market setiap kali transaksi atau dalam periode tertentu (bulanan/tahunan).
Misalnya:
Seorang mahasiswa di Malang rata-rata sekali makan untuk makanan dan minumnya mengeluarkan Kurang lebih Rp20.000 dan sehari 3 kali makan, berarti kebutuhan makan per mahasiswa bisa mencapai sekitar Rp1,8 juta per bulan, potensi besar bagi bisnis ini. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki uang saku sebesar itu.
Jadi, kita asumsikan minimal budget sekali makan Rp10.000 dengan frekuensi 2 kali sehari (maklum anak kos dan pengalaman pribadi saat kuliah dulu) maka kebutuhan makan per mahasiswa minimal bisa mencapai sekitar Rp 10.000 di kali 2 kali makan. Berarti basket size = Rp 20.000 per hari → Rp 600.000 per bulan. Angka yang sangat masuk akal.
- Market Size – Total Potensi Pasar
Dari basket size, kita kalikan dengan jumlah target market yang ada di wilayah tersebut.
Contoh kasus nyata dari kelas saya:
Usaha Ayam Goreng Kribo di Kota Malang
- Definisi bisnisnya: Usaha menghasilkan cash dengan cara membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan makan yang enak, porsi banyak, dan harga terjangkau.
- Target: Mahasiswa
- Basket size: Rp 600.000/bulan/mahasiswa
- Kampus target: Universitas Brawijaya
o Jumlah mahasiswa per angkatan: ± 15.000
o Total mahasiswa aktif (5 angkatan): ± 75.000
Maka:
Basket size Rp 600.000 x 75.000 mahasiswa = Rp 45 Miliar/bulan.
Itu baru 1 kampus.
Kalau kita ambil data dari Dikti, di Malang ada 64 kampus. Anggap jika kita gabungkan akanmenjadi 10 kampus besar setara Brawijaya.
Market size = Rp 45 Miliar x 10 = Rp 450 Miliar per bulan perputaran uang hanya untuk kebutuhan makan mahasiswa.
Besar Bukan? bagaimana dengan Potensi bisnismu?
- Market Share – Potongan Kue yang Bisa Kita Ambil
Tidak semua potensi pasar akan kita kuasai. Ada kompetitor, ada segmen yang tidak cocok dengan produk kita.
Misal kita targetkan 10% market share dari total market mahasiswa di Malang.
10% x Rp 450 Miliar = Rp 45 Miliar per bulan omzet potensial.
Inilah yang saya sebut: main dengan angka yang realistis tapi tetap menantang. (optimis terukur)
- MENGAPA DEFINISI BISNIS MEMENGARUHI MARKET SIZE?
Kalau definisi bisnismu berubah, basket size, market size, dan peluangmu juga berubah total.
Contoh:
- Definisi 1: Membantu mahasiswa makan enak, porsi banyak, harga terjangkau.
→ Basket size Rp 600.000/bulan, target ratusan ribu mahasiswa.
- Definisi 2: Membantu anak SD mendapatkan jajanan sehat.
→ Basket size jauh lebih kecil (Rp 100.000/bulan mungkin), target jumlahnya berbeda, strategi promosi beda.
Makanya saya tekankan di Chapter 14: definisikan dulu bisnisnya dengan benar. Dari situ, hitung potensi pasar yang relevan dengan definisimu. Jika dibutuhkan, segera “redefine your business!”
- CARA MENGHITUNG MARKET SIZE & MARKET SHARE SECARA SISTEMATIS
Gunakan langkah ini untuk bisnismu:
Langkah 1 – Tentukan Basket Size
- Hitung rata-rata pengeluaran target market untuk kebutuhan yang relevan dengan bisnismu.
- Gunakan data riset, survei, atau observasi lapangan.
Langkah 2 – Hitung Jumlah Target Market (Market Volume)
- Ambil data resmi (BPS, PDDikti, asosiasi industri, riset pasar) atau data lapangan.
Langkah 3 – Hitung Market Size
Formula:
Market Size = Basket Size x Jumlah Target Market
Langkah 4 – Tentukan Market Share Target
- Realistis: 5–20% untuk bisnis baru, 20–40% untuk pemain mapan.
Langkah 5 – Ukur Relevansinya dengan Goal Omzet
- Apakah market size & market share cukup untuk mencapai goal omzet tahunan yang kamu tentukan di Chapter 13?
- KUE, KOLAM, DAN LAUTAN
Market Size = Kue Penuh
Semakin besar kue, semakin banyak potongan yang bisa dibagi.
Market Share = Potongan Kue yang Kita Ambil
Potongan bisa besar kalau kita punya brand kuat, sistem rapi, dan strategi tepat.
Opportunity = Resep Rahasia
Kadang kue itu besar, tapi nggak semua orang tahu cara memotongnya. Di sinilah strategi, diferensiasi, dan eksekusi kita berperan.
- OPPORTUNITY: PELUANG DI ANTARA ANGKA
Menghitung market size bukan sekadar untuk tahu “besar kecilnya pasar”, tapi untuk:
- Menemukan peluang segmen yang belum tersentuh kompetitor
- Mengetahui apakah ada cukup “ruang bertumbuh”
- Mengukur skala ekspansi yang masuk akal
Kadang peluang bukan di pasar yang besar, tapi di niche yang spesifik dengan loyalitas tinggi.
- TUGAS HARI INI
Cek lagi definisi bisnismu dari Chapter 14, lalu lakukan ini:
- Hitung basket size pelanggan idealmu.
- Hitung jumlah target market di wilayah operasimu.
- Kalikan untuk mendapatkan market size.
- Tentukan target market share yang realistis.
- Bandingkan dengan goal omzet tahunanmu di Chapter 13.
Kalau angkanya jauh dari goal, berarti ada yang harus disesuaikan:
- Either goalnya diturunkan
- Either pasar diperluas
- Either basket size dinaikkan (produk premium, upselling)
BESOK – Chapter 16: Business Model & Income Stream
Setelah tahu berapa besar kuenya dan berapa potongannya yang mau kita ambil, besok kita akan belajar bagaimana cara mengirisnya dengan rapi — alias merancang Business Model dan Income Stream agar omzet benar-benar terjadi, bukan sekadar proyeksi di atas kertas.
Tetap semangat.
Tulis. Hitung. Pahami.
Karena bisnis tanpa ukuran yang jelas hanya akan berlayar tanpa arah di lautan yang luas.
Coach Ridwan Abadi
#NutrisiJiwa #MarketSize #CRAlegacy #BlueprintBusiness #FromVisionToZiswaf #BisnisUntukAllah






