NUTRISI JIWA series, Chapter 26 : MARKETING COMMUNICATION STRATEGY

NUTRISI JIWA series — Chapter 26
“MARKETING COMMUNICATION STRATEGY”

Saat Orang Sudah Tahu, Tapi Belum Tentu Mau Datang

Pernah nggak kamu lihat brand yang viral banget, rame diomongin orang, tapi pas buka tokonya… sepi?

Atau produk yang wara-wiri di iklan online, tapi waktu dicek di marketplace, review-nya cuma belasan?
Itu contoh klasik: awareness ada, tapi belum jadi consideration.

 

Nah, setelah sebelumnya kita membahas Brand Activation di Funnel ke 2 dari 7 jurus banjir order maka sekarang kita akan bahas Funnel 3: Marketing Communication (MarComm).
Tugas funnel ini sederhana tapi krusial: membuat orang yang sudah tahu, jadi penasaran, lalu datang.

Kalau di funnel sebelumnya, Brand Activation itu ibarat lampu sorot “Hei, lihat aku ada di sini!” maka Marketing Communication adalah obrolan manis yang bikin orang pengen melangkah mendekat.

Kenapa Awareness Saja Tidak Cukup

Saya kasih analogi: semua orang tahu Lamborghini, tapi apakah semua orang ingin (atau mampu) beli?

Banyak orang tahu ada brand besar, tapi ada juga yang tetap setia dengan alternatif sederhana.
Artinya, dikenal itu baru separuh perjalanan.

Di tahap ini, calon konsumen sedang mikir:

  • “Apa bedanya brand ini dengan yang lain?”
  • “Layak nggak gue coba?”
  • “Worth it nggak uang dan waktu gue?”

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu harus diberikan lewat Marketing Communication.

Marketing Communication Itu Apa, Sih?

Gampangnya, Marketing Communication adalah cara kita ngobrol sama pasar.
Tapi bukan ngobrol basa-basi, melainkan ngobrol strategis: kita kasih alasan, bukti, dan cerita kenapa brand kita pantas dicoba.

Kalau Brand Activation bikin orang menoleh, Marketing Communication bikin orang melangkah. Inilah titik di mana awareness berubah jadi minat (consideration).

Strategi yang Bisa Dipakai

Ada banyak cara, tapi saya suka merangkum dalam tiga jurus besar: Edukasi, Bukti, dan Trigger. Lalu kita lengkapi dengan kerangka IMC yang menjadi fondasi komunikasi modern.

  1. Edukasi – Bikin Orang Makin Paham

Orang cenderung mempertimbangkan sesuatu kalau mereka ngerti manfaatnya. Maka edukasi jadi kunci.

Contoh industri skincare lokal:
Banyak brand skincare di Indonesia tumbuh pesat karena fokus edukasi. Misalnya, menjelaskan manfaat kandungan aktif seperti Niacinamide, Retinol, atau Centella Asiatica. Bukan hanya bilang “krim ini bagus”, tapi menjelaskan secara ilmiah dan mudah dimengerti kenapa produk itu bisa mencerahkan kulit atau memperbaiki tekstur.

Contoh industri kopi:
Coffee shop kekinian di kota-kota besar tidak hanya bilang “kopi kita enak”, tapi bercerita soal perjalanan biji kopi dari petani lokal di Gayo atau Toraja hingga sampai ke cangkir pelanggan. Cerita itu membuat konsumen merasa lebih paham dan punya alasan tambahan untuk mencoba.

Contoh industri pendidikan online:
Banyak platform kursus digital berhasil menarik perhatian dengan edukasi singkat di media sosial. Mereka tidak langsung jualan kursus, tapi memberikan tips karier, contoh soal, atau wawasan singkat. Dari situ audiens merasa: “Oh, platform ini kredibel, layak dicoba.”

  1. Bukti – Jangan Cuma Janji

Manusia itu butuh lihat bukti, bukan sekadar dengar janji.

Jenis bukti yang efektif:

  • Testimoni pelanggan asli.
  • Review jujur di marketplace.
  • Before-after untuk produk kecantikan.
  • Liputan media atau influencer yang credible.

Contoh industri F&B (makanan & minuman):
Sebuah restoran cepat saji di Indonesia memanfaatkan food vlogger lokal untuk review menu baru. Hasilnya, penonton percaya karena reviewer memang dikenal jujur. Review jujur lebih dipercaya dibanding iklan besar di TV.

Contoh industri otomotif lokal:
Produsen motor listrik Indonesia tidak hanya beriklan soal “hemat energi”, tapi juga menunjukkan bukti nyata melalui video test ride, ulasan konsumen, dan testimoni tentang biaya operasional yang jauh lebih rendah.

Bukti sosial (social proof) ini powerful banget untuk bikin orang bilang: “Kalau orang lain aja puas, gue juga mau coba.”

 

  1. Trigger – Kasih Alasan untuk Aksi

Kadang orang udah tahu, udah tertarik, tapi masih nunda. Di sinilah trigger bekerja.

Jenis trigger:

  • Promo terbatas: “Diskon 50% hanya minggu ini.”
  • Bonus spesial untuk pembeli pertama: “Gratis upgrade ukuran untuk 100 pelanggan pertama.”
  • Campaign unik: challenge TikTok, kuis interaktif.

Contoh industri fashion muslim:
Brand busana muslim lokal sering menggunakan trigger berupa promo menjelang Ramadan. Mereka membuat campaign “Beli 2 gratis 1 jilbab edisi khusus” atau “Pre-order baju lebaran dengan harga spesial untuk 1.000 pembeli pertama.”

Contoh industri travel halal:
Agen travel umrah sering memanfaatkan trigger berupa harga early bird. “Daftar sekarang, hemat Rp3 juta, hanya untuk 50 kursi pertama.”

Trigger ini memotong keraguan dan bikin konsumen akhirnya melangkah.

Integrated Marketing Communication (IMC)

Di era modern, strategi di atas tidak bisa berdiri sendiri. Semua kanal komunikasi harus terintegrasi (integrated marketing communication).

Contoh penerapan IMC:

  • Industri F&B halal: campaign peluncuran menu baru dimulai dari teaser di Instagram, review food vlogger, iklan billboard di jalan utama, lalu promo di aplikasi delivery. Semua saluran menyampaikan pesan konsisten: “Menu baru, halal, nikmat, harga terjangkau.”
  • Industri pendidikan: universitas swasta melakukan kampanye pendaftaran mahasiswa baru. Mereka pakai iklan Google (digital), brosur sekolah (offline), webinar gratis (edukasi), dan testimoni alumni (social proof). Semua menyampaikan pesan yang sama: “Kuliah di sini, siap kerja dengan skill modern.”

Kuncinya adalah konsistensi pesan. Jangan sampai di Instagram bicara murah, tapi di billboard bicara eksklusif. Pesan yang konsisten membuat konsumen lebih percaya.

Cerita Nyata – Bisnis yang Hampir Gagal

Saya pernah coaching satu brand. Mereka sudah punya Produk Berkualitas,  lokasi strategis dan bahkan pernah viral. Tapi anehnya, penjualan nggak naik signifikan.

Setelah kita bedah, ternyata mereka hanya berhenti di awareness. Orang tahu ada brand ini, tapi tidak punya alasan untuk datang.

Akhirnya kita bikin strategi MarComm sederhana:

  1. Edukasi → bikin konten tentang kekuatan Produk, Nilai Tambah dan Servicenya, supaya audiens merasa paham.
  2. Bukti → ajak micro-influencer lokal buat review jujur.
  3. Trigger → Buat Event & Pameran Produk dan kasih promo “Untuk Yang dating dan Transaksi.”

Hasilnya? Dalam 2 bulan, traffic naik signifikan dan repeat order mulai terjadi, stok berkehntipun berkurang dragtis.

Marketing Communication di Era Digital

Sekarang dunia sudah berubah. Cara orang membuat keputusan jauh berbeda dari 10 tahun lalu. Beberapa tren yang wajib diperhatikan:

  1. Konten edukasi singkat → video 30 detik lebih powerful daripada artikel panjang.
  2. Micro-influencer → audiens lebih percaya pada influencer kecil tapi autentik.
  3. UGC (User Generated Content) → konten dari konsumen asli jauh lebih dipercaya.
  4. Personalisasi pesan → email/WhatsApp yang terasa personal lebih menggugah.
  5. Interaktif campaign → polling, kuis, challenge bikin konsumen merasa terlibat.

Intinya, komunikasi bukan lagi soal “teriak paling keras”, tapi soal ngobrol dengan cara yang paling relevan.

Tahu menjadi Mau
Marketing Communication adalah jurus untuk mengubah tahu menjadi mau.
Kalau Brand Activation itu bikin orang nengok, Marketing Communication bikin mereka melangkah. Jurus ini penting karena awareness tanpa consideration hanya bikin brand jadi bahan gosip, bukan bahan pilihan.

Dalam bisnis, komunikasi yang lembut, strategis, dan tepat sasaran adalah kunci untuk menghiasi brand kita dengan kepercayaan. Itulah yang membuat konsumen berkata: “Oke, gue coba deh.”

Tugas Hari Ini

  1. Buat konten edukasi singkat tentang produkmu (manfaat, bukan hanya fitur).
  2. Kumpulkan dan tampilkan minimal 3 testimoni pelanggan.
  3. Rancang 1 trigger promosi untuk minggu ini (promo terbatas, bonus, atau challenge).
  4. Susun komunikasi brand-mu dengan framework IMC dan pastikan konsisten di semua kanal.

Chapter Berikutnya

Setelah orang tahu dan mulai tertarik, jurus berikutnya adalah memastikan mereka benar-benar melakukan transaksi. Di Chapter 27, kita akan membahas Sales Optimization—bagaimana mengubah consideration menjadi conversion.

Coach Ridwan Abadi
#NutrisiJiwa #BRMChapter26 #CRAlegacy #BlueprintBusiness #BisnisUntukAllah

NUTRISI JIWA series — Chapter 25 : BRAND ACTIVATION STRATEGY

NUTRISI JIWA series — Chapter 25
BRAND ACTIVATION STRATEGY

Di chapter sebelumnya kita membahas Distribusi sebagai jurus pertama dalam 7 Jurus Banjir Order. Distribusi memastikan produk hadir di kanal yang tepat dan mudah diakses. Namun, distribusi saja tidak cukup. Produk yang sudah tersedia tidak akan otomatis dibeli jika orang tidak tahu keberadaannya. Karena itu, jurus kedua yang sangat penting adalah Brand Activation.

Kenapa Brand Activation Menjadi Jurus Kedua

Setelah distribusi kuat produk tersedia di kanal yang tepat dan mudah diakses, tantangan berikutnya adalah membuat target market tahu bahwa kita ada, paham kelebihan kita, dan mulai menaruh perhatian.

Banyak bisnis berhenti di tahap “produk sudah ada di pasaran” tapi lupa membangun kesadaran merek (brand awareness). Akibatnya, stok memang tersedia, tapi pelanggan tidak merasa perlu mencarinya.

Brand Activation adalah langkah untuk menyalakan kesadaran tersebut. Bukan sekadar memberi tahu “kami ada”, tapi juga menciptakan citra dan posisi yang jelas di kepala konsumen.

Jurus “Brand Activation”

  1. Buat Konten Aktivasi yang Menggambarkan Kelebihan dan Positioning

Konten adalah amunisi utama dalam Brand Activation. Konten yang tepat akan membentuk persepsi yang kita inginkan.

Langkah-langkah membangun konten aktivasi:

  1. Tentukan Positioning
    Positioning adalah “tempat” yang kita ingin tempati di benak konsumen.
  • GoPro: “Action camera untuk petualangan ekstrem.”
  • Kopi Kenangan : “Tempat ketiga selain rumah dan kantor.”
  • Wardah: “Kosmetik halal untuk perempuan modern.”

Tips:

  1. Cari keunikan yang kompetitor tidak punya.
  2. Pastikan relevan dengan kebutuhan target pasar.
  3. Gunakan bahasa yang mudah diingat.
  1. Rancang Pesan Utama (Core Message)
    Pesan utama adalah ringkasan nilai tambah yang kita tawarkan. (Pembahasan nilai tambah sudah kita jabarkan di Chapter sebelumnya.)
  • “Nikmati kopi terbaik di dekat kampus Anda.”
  • “Belanja fashion tanpa takut kantong jebol.”

Ciri pesan yang kuat: singkat, emosional, konsisten.

  1. Tunjukkan Kelebihan Produk (FAB)
  • Feature (Fitur)
  • Advantage (Keunggulan)
  • Benefit (Manfaat)

Contoh skincare:

  • F: Mengandung Niacinamide 10%.
  • A: Lebih tinggi dibanding rata-rata.
  • B: Membantu mencerahkan kulit lebih cepat.
  1. Buat Storytelling
    Orang lebih mudah mengingat cerita dibanding data mentah. Cerita bisa tentang proses pembuatan produk, kisah pendiri, atau perubahan pelanggan.

    E. Konten Winning

Setelah langkah langkah sebelumnya di finalisasi, maka bentuk menjadi konten Aktivasi, bisa dalam bentuk :

  • Desain Grafis
  • Audio seprti jingle, lagu dll
  • Video dan juga bentuk konten lainnya
  1. Pilih Media yang Relevan dengan Target Market

Media adalah “jalan raya” bagi pesan brand kita untuk sampai ke audiens.

  1. Media Tradisional
    TV, radio, billboard, majalah.
    Kelebihan: jangkauan luas.
    Kekurangan: biaya tinggi, sulit diukur.
  2. Media Digital
    Instagram, TikTok, YouTube, Google Ads.
    Kelebihan: targeting spesifik, mudah diukur.
    Kekurangan: persaingan tinggi, butuh konsistensi.
  3. Media Hybrid
    Menggabungkan offline dan online: event offline disiarkan live, QR code di billboard.
  4. Aktivasi dengan Strategi Serangan Terpadu

Brand Activation maksimal jika dilakukan dengan strategi 360 derajat—menyerang dari udara, darat, dan online.

  1. Serangan Udara (ATL)
    Media luas: iklan TV, billboard, radio.
    Tujuan: awareness massal, kesan besar.
  2. Serangan Darat (BTL)
    Aktivasi langsung: sampling, booth, demo produk.
    Tujuan: pengalaman langsung, interaksi personal.
  3. Serangan Online (TTL)
    Interaksi digital: influencer marketing, live streaming, challenge media sosial.
    Tujuan: engagement, komunikasi dua arah.
  4. Memaksimalkan Strategi di Era Branding Modern

Tren 2025 yang wajib diperhatikan:

  1. Brand Humanization – brand seperti manusia, mudah disukai.
  2. Micro-Influencer Power – kecil tapi relevan, ROI tinggi.
  3. UGC (User Generated Content) – konten asli pelanggan lebih dipercaya.
  4. Short-form Video – TikTok & Reels dominan.
  5. Personalization – pesan personal meningkatkan engagement.
  1. Contoh Implementasi Brand Activation Terpadu

Bisnis minuman kekinian “Milk Time”:

  • Konten Aktivasi: storytelling bahan lokal premium.
  • Media: TikTok & Instagram + billboard kampus.
  • ATL: Billboard “Buka Segarnya Milk Time”.
  • BTL: Booth sampling di kampus.
  • TTL: Challenge TikTok #MilkTimeChallenge.

Hasil:

  • Awareness naik 250%.
  • Followers dari 5.000 ke 35.000.
  • Penjualan naik 40%.

Menyalakan Mesin Awareness

Brand Activation adalah jembatan antara produk yang sudah terdistribusi dan pelanggan yang mulai tertarik membeli. Distribusi tanpa Brand Activation ibarat memiliki toko di lokasi strategis tapi lampunya mati, orang lewat tapi tidak melihat.

Dengan konten yang tepat, media yang relevan, dan strategi terpadu (Serangan Darat, udara dan online), bisnis akan membangun awareness yang kuat dan positioning yang jelas di benak konsumen.

Tugas Hari Ini

  1. Tentukan positioning brand Anda.
  2. Buat core message singkat & emosional.
  3. Susun konten aktivasi berbasis FAB.
  4. Pilih 2 media utama untuk aktivasi minggu ini.

Berikutnya

Setelah awareness tercipta, langkah berikutnya adalah mengubah rasa tahu menjadi rasa ingin mencoba. Di Chapter 26 kita akan membahas Marketing Communication—jurus ketiga yang mengubah awareness menjadi consideration dan akhirnya aksi membeli.

Coach Ridwan Abadi
#NutrisiJiwa #BRMChapter25 #BrandActivation #CRAlegacy #BlueprintBusiness #BisnisUntukAllah

NUTRISI JIWA series : Chapter 24

KEKUATAN DISTRIBUSI

Pada bab sebelumnya kita telah memahami prinsip kerja framework Double Funnel Banjir Order . Kita melihat bagaimana dua mesin corong atas (akuisisi pelanggan baru) dan corong bawah (optimalisasi pelanggan lama) saling menguatkan untuk menciptakan arus tatanan yang konsisten. Kini, kita mulai membedah satu per satu jurus yang ada di dalamnya. Jurus pertama yang menjadi pondasi segalanya adalah Distribusi .

Mengapa Distribusi Jadi Fondasi Corong 7 Jurus Banjir Tertib

Sebelum berbicara tentang iklan, promosi, atau branding, ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab:

Bagaimana mudahnya orang bisa mendapatkan produk kita?

Distribusi adalah “urat nadi” penjualan. Produk hebat tapi jangkauannya sulit akan kalah dari produk biasa yang mudah didapat.

Analogi sederhana: air minum. Tidak peduli seberapa enak rasanya, jika konsumen harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkannya, mereka akan memilih yang lebih dekat. Inilah mengapa pendistribusian menjadi pondasi corong pertama karena tanpa pendistribusian, semua jurus berikutnya tidak akan berfungsi.

Definisi Kekuatan Distribusi

The Power of Distribution adalah kekuatan aksesibilitas produk. Intinya: produk harus hadir di tempat yang tepat, jumlah yang tepat, dan waktu yang tepat. Distribusi bukan hanya tentang stok, tetapi tentang bagaimana produk dapat mengakses konsumen dengan mudah, cepat, dan nyaman .

Dalam strategi 7 Jurus Banjir Order, distribusi adalah pintu masuk. Tanpa pintu yang terbuka, promosi hanya mengundang calon pelanggan untuk menemukan jalan buntu.

Praktik The Power of Distribution
Untuk banjir order, pada Jurus Distribusi ada 4 langkah yang bisa kita praktikkan untuk mengoptimalkan hasil hingga Bisa Banjir order.

1. Menghitung Jumlah Distribusi untuk memusatkan Target Omzet

Banyak bisnis yang gagal karena hanya fokus pada target omzet tanpa memecahnya ke dalam target distribusi yang realistis. Misalnya, seorang pemilik kedai kopi menargetkan omzet Rp 500 juta per bulan. Angka ini terdengar besar, tapi bagaimana caranya dicapai? Tanpa perhitungan distribusi, target tersebut hanya tinggal harapan.

Mari kita uraikan:

  1. Target omzet bulanan : Rp 500.000.000
  2. Harga rata-rata per unit : Rp 50.000
  3. Jumlah unit terjual yang dibutuhkan: Rp 500.000.000 ÷ Rp 50.000 = 10.000 unit

Namun, penjualan tidak pernah 100% dari distribusi. Selalu ada faktor stok yang tidak terjual, barang rusak, atau penempatan yang tidak efektif. Oleh karena itu, kita harus memperhitungkan rasio konversi distribusi ke penjualan . Jika konversi 70%, maka:

10.000 ± 0,7 ≈ 14.300 unit yang harus tersedia di pasar.

Pelajaran penting:

  • Distribusi bukan sekedar “ada stok”, tapi stok yang proporsional .
  • Kekurangan stok = kemungkinan hilang.
  • Kelebihan stok = biaya gudang membengkak.

Inilah seni distribusi: mengatur keseimbangan antara target omzet, kapasitas produksi, dan realitas pasar.

2. Kanal Distribusi dan Sasaran Per Kanal

Setelah mengetahui jumlah unit yang harus didistribusikan, langkah berikutnya adalah membagi distribusi itu ke kanal-kanal yang tepat. Tidak semua kanal punya karakter yang sama.

  1. Kanal Online
    Produk hadir di marketplace (Shopee, Tokopedia), website, sosial commerce (TikTok Shop, Instagram), dan aplikasi pengiriman (GoFood, GrabFood). Online memberi jangkauan luas, data mudah dilacak, dan bisa didorong iklan digital.

Contoh kasus: Seorang penjual fashion menetapkan 40% distribusi melalui online, artinya 5.720 unit/bulan. Target ini mendorongnya aktif di pasar dan TikTok Shop dengan strategi penjualan langsung.

  1. Kanal Offline
    Produk hadir di toko fisik, reseller, warung, atau event pameran. Kelebihannya: pengalaman langsung bagi konsumen. Banyak orang tetap lebih percaya membeli produk yang bisa mereka sentuh, coba, atau rasakan langsung.

Contoh kasus: Sebuah merek makanan ringan menargetkan 35% distribusi di warung, minimarket, dan reseller, yaitu sekitar 5.005 unit/bulan.

  1. Omni Channel
    Menggabungkan online dan offline: klik & kumpulkan, promo klaim online offline, penjualan langsung di toko fisik. Ini memberi pengalaman yang mulus.

Contoh kasus: Sebuah kedai kopi membuat promo online yang bisa diklaim secara gerai, mencakup 25% distribusi (3.575 unit/bulan).

Tabel Sasaran Distribusi Per Kanal:

Kanal Persentase Satuan/Bulan
On line 40% 5.720
Memikat 35% 5.005
Saluran Omni 25% 3.575
Total 100% 14.300

 

3. Cara Pendistribusian – Bertemu dengan Konsumen

Distribusi bukan hanya soal di mana produk berada, tapi bagaimana produk bertemu konsumen.

  1. Pull Strategy (Didatangi Konsumen)
    Kita membuat konsumen datang. Caranya: lokasi strategis, toko online yang mudah ditemukan.

Contoh: Supermarket di pinggir jalan utama dengan akses mudah, atau toko online dengan SEO kuat sehingga muncul di halaman pertama Google.

  1. Strategi Dorong (Mendatangi Konsumen)
    Kita membawa produk ke konsumen: penjualan door-to-door, canvasing, atau pengiriman langsung.

Contoh: Brand minuman yang membuka booth di CFD (Car Free Day), langsung menjemput konsumen di lokasi mereka.

  1. Gabungan (Pull + Push) (di datangi dan mendatangi)
    Kombinasi keduanya menghasilkan daya ungkit lebih besar. Misalnya, iklan online yang mendorong konsumen datang ke acara offline.

4. Strategi Mengoptimalkan Distribusi

Distribusi bisa kuat jika dikelola dengan strategi yang

  1. Optimasi Pull dengan lokasi Pemilihan “STRATEGIS”
  • Lokasi dipilih berdasarkan lalu lintas data.
  • Acara kecil di toko untuk menarik massa.
  • Kode QR di toko agar konsumen bisa lebih lanjut berbelanja online.
  1. Optimasi Push dengan menolak tim yang mendatangi “EXPERT/AHLI”
  • Latih tim distribusi agar bisa membangun hubungan, bukan sekedar mengantarkan barang.
  • Rute distribusi yang efisien.
  • Program sampling agar konsumen bisa mencoba langsung.
  1. Distribusi Berbasis Data
  • Analisis area mana yang paling banyak membantu penjualan.
  • Pantau stok secara real-time untuk mencegah penghindaran.
  • Prediksi tren musiman untuk menyiapkan distribusi lebih awal.
  1. Diversifikasi Kanal
  • Jangan bergantung pada satu saluran. Jika marketplace bermasalah, saluran offline dan omni tetap menopang.

Kesimpulan dan Hikmah

Distribusi adalah pondasi pertama dari 7 Jurus Banjir Tata. Jika fondasi ini rapuh, semua strategi lainnya akan menjadi kurang optimal.

Bisnis yang baik adalah bisnis yang memudahkan orang mengakses manfaatnya. Semakin mudah mengakses produk kami, semakin besar pahala karena kami menjadi jalan kemudahan bagi orang lain. Seperti sahabat Abdurrahman bin Auf yang dikenal tidak hanya kaya, tetapi juga ahli distribusi dagangan hingga dipercaya banyak orang.

Tugas Hari Ini

  1. Hitung kebutuhan distribusi untuk target omzet bisnismu.
  2. Pecah distribusi ke kanal: online, offline, omni.
  3. Strategi audit yang dominanmu: tarik, dorong, atau kombinasi?
  4. Pilih 1 strategi optimasi distribusi yang bisa langsung dieksekusi minggu ini.

Berikutnya

Distribusi memastikan produk hadir di depan mata konsumen. Namun, kehadiran saja tidak cukup jika pasar belum tahu kita ada. Oleh karena itu, di Bab 25 kita akan membahas Aktivasi Merek —jurus kedua yang menyalakan kesadaran pasar dan membuat orang pertama kali mengenal produk kita.

Coach Ridwan Abadi
#NutrisiJiwa #BRMCapter24 #CRAlegacy #BlueprintBusiness #BisnisUntukAllah